News

Tips Menulis Buku Fiksi

Percaya atau tidak setiap orang adalah penulis. Menulis adalah salah satu bentuk komunikasi dan refleksi kecendekiaan seseorang yang dibutuhkan dalam perkembangan orang itu sendiri maupun orang lain, baik itu menulis fiksi maupun non fiksi.

Salah satu cara yang paling menarik adalah dengan menggabungkan berbagai metode yang berbeda secara bersamaan. Anda bisa menulis dengan mengombinasikan antara sains, mitos, dan pengalaman pribadi.

Kunci utama dalam menulis adalah menulis dan terus menulis. Tetapi kemudian apakah kesulitan yang nantinya timbul dalam proses itu? Bagaimanakah cara menulis yang baik? Apa saja yang mampu memicu ide atau gagasan untuk dapat dijadikan tulisan? Apa yang harus kita lakukan ketika tulisan “macet” di jalan karena kehabisan ide? Setelah tulisan itu selesai apa yang harus kita lakukan? Bagaimana sebuah karya bisa diterbitkan? Lalu seperti apakah prosesnya? Bagaimana mengubah tulisan menjadi uang?

Bagi Anda para pecinta fiksi mistik, sufistik atau filosofis, tentu tak asing dengan nama penulis berdarah Amerika Latin yang  dengan cerdas mengemas cerita dalam bahasa simbolik dan ragam metafora, Paulo Coelho. Dari tangannya, terlahir karya masyhur seperti; The Alchemist, The Zahir, The Witch of Portobello, Eleven Minutes, The Winner Stands Alone dan sebagainya. Karya-karyanya telah terjual lebih dari 100 juta kopi, diterjemahkan dalam 67 bahasa di 150 negara di dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Dalam web blog pribadinya, Coelho berbagi tips cara menulis buku atau novel sebagaimana pengalamannya selama ini kepada para penggemarnya. Berikut adalah beberapa cara yang perlu harus lakukan:

Pertama, Keyakinan. Anda tidak bisa menjual buku yang diterbitkan berikutnya jika kita memandang rendah buku yang baru saja Anda terbitkan. Jadi, berbanggalah dengan apa yang Anda miliki.

Ke dua, Percaya. Percayalah kepada pembaca, jangan menjelaskan sesuatu terlalu detail. Cukup beri petunjuk dan, biarkan para pembaca memenuhi petunjuk tersebut dengan imajinasi mereka sendiri.

Ketiga, Pengalaman. Anda tidak bisa memulai sesuatu berangkat dari ruang yang kosong. Ketika menulis sebuah buku, gunakanlah pengalaman Anda.

Ke empat, Kritik. Beberapa penulis ingin menyenangkan rekan-rekan mereka sesama penulis, mereka ingin “diakui”. Ini menunjukkan rasa tidak aman dan tidak ada lagi. Lupakan hal ini. Anda harus peduli untuk berbagi jiwa dan bukan untuk menyenangkan penulis lain. Anda diperkenankan mengkritik ataupun dikritik.

Ke lima, Membuat Catatan. Jika sibuk menangkap ide-ide yang ada, Anda sendiri akan lenyap. Anda akan kehilangan emosi dan lupa bagaimana menjalani hidup Anda sendiri. Lupakan mencatat! Karena hal yang penting adalah hal yang tidak penting itu sendiri.

Ke enam, Penelitian. Jika Anda membuat buku dengan banyak catatan penelitian, buku Anda akan membosankan untuk Anda sendiri dan para pembaca. Novel yang Anda buat bukan untuk menunjukkan betapa cerdas Anda. Ia menunjukkan bagaimana jiwa Anda.

Ke tujuh, Penulisan. Saya menulis buku yang ingin saya tulis. Pada kalimat pertama terdapat benang yang akan membawa Anda hingga akhir cerita.

Ke delapan, Gaya. Jangan sekali-kali mencoba untuk berinovasi bercerita, menceritakan sebuah cerita yang bagus dan itu ajaib. Saya melihat orang-orang mencoba untuk bekerja begitu banyak dalam gaya, mencari cara yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama. Ini seperti fashion. Gaya pakaian, tetapi pakaian yang dikenakan tidak mendikte apa yang ada di dalamnya.

 

Demikian tips menulis buku fiksi, semoga membantu kalian yang ingin menulis.

Untuk menerbitkan buku fiksi silahkan percaakan pada Jakad Publishing 🙂

Sumber : https://www.kompasiana.com/caturwarna/5528df036ea8348b128b4569/8-tips-menulis-novel-fiksi-ala-paulo-coelho

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker